Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Rabu, Maret 11, 2009

Dugaan Israel Dibalik Peristiwa 11 September


Temuan terbaru peristiwa 11 September mengejutkan dunia. Media berita Amerika membenarkan keterlibatan Israel

Hidayatullah.com—Temuan terbaru dilaporkan adanya keterlibatan agen Israel dalam tragedi yang menghancurkan gedung World Trade Center (WTC) dan gedung Pentagon.

American Free Press, sebagaimana dikutip oleh Press TV, siang tadi, menyatakan bahwa Ziad Al Jarrah, salah satu tersangka yang dicurigai dalam aksi terorisme tersebut, diketahui merupakan salah satu agen Israel, Mossad.

Penemuan lainnya oleh New York Times, juga membeberkan bahwa saudara Ziad, Ali Al Jarrah, yang memiliki kewarganegaraan Lebanon, juga dicurigai bergabung dalam badan mata-mata Israel selama 20 tahun terakhir.

"Penemuan lainnya mengenai tragedi 11 September tersebut, juga mendapati bahwa sepupu Jarrah terlibat langsung sebagai satu dari 19 pembajak kapal yang menabrakkannya ke menara kembar WTC dan Pentagon," tambah New York Times.

Penemuan ini memicu spekulasi bahwa, pihak agen Israel memang sengaja mendapatkan anggota dari kelompok muslim Arab, untuk menutupi rencana jahatnya tersebut.

Sebelumnya, Perdana Menteri Italia Francesco Cossiga juga pernah menyampaikan pendapatnya bahwa tindak terorisme 11 September tersebut di dalangi oleh CIA dan Mossad.

"Badan intelijen Amerika dan Eropa sebenarnya telah mengetahui bahwa otak di balik tragedi 9/11 tersebut adalah CIA dan Mossad, dan keduanya lalu mempengaruhi negara-negara lain dengan menuding bangsa Arab sebagai pelakunya," kata Cossiga, sebagaimana dikutip oleh media Corriere della Serra.

Cossige menegaskan pendapatnya dengan argumen dari laporan bahwa dua jam sebelum tragedi 9/11 tersebut terjadi, para karyawan perusahaan telekomunikasi Israel, Odigo, yang berjarak blok dari WTC, diperintahkan untuk segera meninggalkan gedung perusahaan tersebut.

Temuan ini bukan kali pertama. Sebab, sebulan peristiwa ini terjadi sudah pernah ditemukan bukti adanya sekitar 4000 orang-orang Yahudi yang telah menerima pengumuman akan adanya peledakan di gedung WTC. [wpd/cha/www.hidayatullah.com]

Krisis ekonomi membuat penduduk negeri Paman Sam semakin menjauhkan diri pada Tuhan

Hidayatullah.com--Survei terakhir yang diadakan American Religious Identification yang

Diumumkan kemarin (9/3) menunjukkan, semakin banyak warga AS yang meninggalkan agama dan menjadi pengikut kelompok ateis, agnostis (percaya Tuhan, namun tak beribadah menurut satu agama mana pun), sekuler, dan orang-orang yang menyatakan diri tak terikat pada satu agama mana pun meski menganggapnya penting.

Riset tahunan yang diadakan badan pemerintah urusan agama itu menemukan 15 persen responden di seluruh negara bagian menyatakan bahwa mereka kini tidak beragama. Persentase tersebut meningkat 1,5 persen daripada hasil survei yang sama pada 2001 dan dua kali lipat daripada hasil survei 1990.

Dari persebarannya, negara-negara bagian di wilayah New England (meliputi negara-negara di pantai timur mulai New York sampai Chicago) adalah tempat penganut kelompok non-agama dengan persentase sampai 34 persen.

"Namun, dari keseluruhan pengamatan, kelompok ateis meningkat di semua negara bagian," ujar pernyataan penyelenggara survei yang dilakukan terhadap 54.461 warga dewasa di 50 negara bagian itu. Survei tersebut berlangsung mulai November tahun lalu hingga Februari 2009 dengan margin kesalahan 0,5 persen.

Sebagai agama terbesar yang dipeluk warga AS, Kristen mengalami penurunan pengikut terbesar. Sebelumnya, hampir 8 di antara 10 orang Amerika adalah pemeluk Kristen (Katolik, Protestan, Mormon, Ortodoks, dan lain-lain). "Angka warga Amerika yang melaporkan diri sebagai penganut Kristen tinggal sekitar 51 persen," lanjut bunyi hasil survei itu.

Kristen bukan satu-satunya agama yang makin kehilangan tempat di Amerika Serikat. Tren penurunan pemeluk juga dialami agama-agama lain, seperti Yahudi yang diyakini oleh 1,7 persen warga AS, Buddha 0,7 persen, dan Islam 0,6 persen. Peningkatan hanya terjadi pada gerakan kepercayaan yang tidak meyakini Tuhan sebagai satu-satunya kekuasaan tertinggi (monoteisme), seperti Scientology, Wicca, dan Santeria. Penganut gerakan kepercayaan baru tersebut meningkat 1,2 persen. [ap/www.hidayatullah.com]

Minggu, Maret 08, 2009

Gus Solah Menolak Dikaitkan Dukung Ahmadiyah


Adik Gus Dur, Solahuddin Wahid menolak dikaitkan seolah-olah mendukung kelompok Aliansi Masyarakat Madani yang mendukung Ahmadiyah. "Saya tidak mendukung pernyataan sikap itu, " ujarnya

Jum'at, 22 Juli 2005

Ir. Solahuddin Wahid: "Enggak Benar Kalau Saya Mendukung"

Hidayatullah.com--Adik kandung Gus Dur, Ir. Solahuddin Wahid menolak dikaitkan dengan peryataan sejumlah orang bernama Aliansi Masyarakat Madani (AMM) yang meminta MUI mencabut fatwa sesat Ahmadiyah sebagaimana dimuat dalam detik.com, Jum'at (22/7).

Dalam wawancara singkatnya dengan hidayatullah.com Gus Solah, demikian adik kandung Gus Dur itu akrab di sapa justru tak tau-menahu jika namanya dikaitkan seolah-olah mendukung Ahmadiyah. "Saya tidak mendukung pernyataan sikap itu, " ujarnya. Inilah wawancaranya:

Nama Anda tercantum dalam pernyataan sikap yang dikeluarkan Aliansi Masyarakat Madani, apa tanggapan Anda?

Enggak betul itu! Saya memang datang rapat 2 hari yang lalu, tapi ketika membahas poin yang itu (menuntut pencabutan fatwa MUI ttg kesesatan Ahmadiyah-red) saya tidak setuju. Saya usulkan point itu kita dialog lah, mendesak MUI untuk mengadakan dialog dengan melibatkan ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain, termasuk AMM gitu kan.

Kita diskusikan, bagaimana kelanjutannya ya kita lihat nanti. Saya bukan ahli agama, sehingga saya bukan pada posisi untuk dapat membenahi pendapat majelis ulama yang menurut saya lebih mempunyai kelengkapan ilmu daripada saya.

Tanggapan Anda sendiri tentang pernyataan itu bagaimana?

Saya enggak setuju. Jadi itu kan diskusi, pada waktu itu saya bilang saya tidak setuju dengan poin ini. Pada waktu itu saya usulkan untuk lebih menekan diskusi atau mendorong dialog MUI dengan ormas-ormas Islam, termasuk mungkin dengan Ahmadiyah. Pokoknya kita diskusi lah…

Tetapi kenyataannya nama Anda tercantum dalam pernyataan itu?

Enggak, saya tidak mendukung pernyataan sikap itu.

Apa tanggapan Anda terhadap pencantuman nama Anda itu?

Yaa...enggak benar! Ketika diskusi kemarin itu saya tegas menolak. Saat itu cuma saya yang menolak.

Apakah Anda tergabung dengan kelompok yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Madani itu?

Kemaren itu saya diundang untuk diskusi tentang itu, yaaa...saya datang lah. Saya juga enggak tahu kapan Aliansi Masyarakat Madani itu dibentuk.* (Lutfi Efendi/hidayatullah.com).

Obama Lebih Berbahaya daripada Bush

Dunia Islam Jangan Berharap Pada Obama.

Terpilihnya Barack Husein Obama sebagai presiden AS, semula diharapkan akan membuka lembaran baru sejarah hubungan antara dunia Islam dengan Barat terutama AS yang selama 8 tahun ini telah dinodai kebijakan Presiden George W Bush. Kebijakan luar negeri Pemerintahan Bush selama ini benar-benar sangat merugikan dunia Islam. Selain melakukan invasi militer ke Afghanistan dan Irak yang menimbulkan korban sipil satu juta jiwa, Bush juga menabuh bendera perang melawan terorisme, melalui program Againts Global War On Terorism (Perang Global Melawan Terorisme). Teroris yang dimaksud oleh Bush adalah Islam dan kaum muslimin.

Maka tidaklah mengherankan jika terpilihnya Obama disambut dengan antusias oleh dunia Islam. Bahkan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinedjad yang selama ini menjadi musuh besar AS, sempat mengirim surat ucapan selamat atas terpilihnya Obama. Namun ternyata jawaban Obama sungguh mengecewakan dan masih diliputi rasa kebencian terhadap negara para mullah tersebut. Memang selama ini dunia Islam termasuk Iran berharap terjadi perubahan dalam politik luar negeri AS yang semula agresif dengan lebih mengedepankan kekuatan militernya menjadi lebih lunak dan membangun hubungan kerjasama dengan dunia Islam.

Namun nampaknya harapan tersebut tinggal harapan kosong. Sebab kuatnya lobby Yahudi di AS yang menguasai posisi-posisi penting pada lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, pers dan intelijen; menjadikan politik luar negeri AS sulit untuk berubah. Dengan semikian sebenarnya antara Bush dan Obama sama saja setali tiga uang. Jika dunia Islam amat berharap pada Obama, dapat diibaratkan keluar dari mulut singa masuk ke mulut buaya.

Hal tersebut terungkap dalam diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK) ke 42 bertajuk “Dunia Islam; Perlukan Berharap Pada Obama?”, yang diselenggarakan oleh Hizbud Dakwah Islam (HDI) dan Forum Umat Islam (FUI), di Gedung Intiland Tower, Jakarta, Rabu (26/11) lalu. Diskusi yang dipandu oleh M. Luthfie Hakim itu menghadirkan pembicara Ahmad Syafii Ma'arif (mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah), Jerry D Gray (mantan US Air Force), M Shoelhi (penulis buku “Diambang Keruntuhan AS”) serta Erma Pawitasari (alumnus Boston University USA).

Pengamat politik internasional dan mantan US Air Force, Jerry D Gray, berani memprediksi pemerintahan Obama akan lebih berbahaya sehingga menimbulkan kesulitan lebih besar bagi dunia Islam daripada pemerintahan Bush. “Kabinet Obama saja sudah menunjukkan lebih berbahaya daripada kabinet Bush. Terbukti Hillary Clinton yang sangat rasialis diangkat sebagai Menlu. Sedangkan Robert H Gates tetap dalam posisi sebagai Menhan. Saya kira baru kali ini dalam sejarah AS, Presiden berganti tetapi Menhan tetap menjabat”. Menurut Gray, Obama sangat pro Yahudi, dan memang setiap Presiden AS dapat lolos setelah mendapat rekomendasi dari sejumlah organisasi Yahudi AS seperti AIPAC, Shimon Weisental Foundation, Rochofeller Foundation, Ford Foundation dan sebagainya.

Bahkan dalam diskusi tersebut, mualaf yang juga instruktur selam itu berani memprediksi Obama akan memerintahkan invasi militer ke Iran untuk membungkam reaktor nuklirnya sekaligus menjatuhkan rezim Teheran. Hal itu dapat diindikasikan pada sebuah AIPAC Meeting di Washington, Obama pernah berucap: “Siapa musuh Israel juga musuh saya dan musuh AS. Sekarang musuh yang paling dekat adalah Iran”. Dengan komentarnya tersebut, Gray sangat yakin Iran akan dijadikan sasaran berikutnya setelah Irak dan Afghanistan.

Tidak hanya itu kejahatan Yahudi terhadap umat Islam. Sebagaimana yang tertulis dalam dokumen World Economic Report tahun 2000 yang dikutip Gray disebutkan, kaum Yahudi AS siap melakukan pembunuhan terhadap 2 miliar penduduk bumi non kulit putih dengan cara apapun, termasuk dengan cara lunak maupun keras seperti sterilisasi, invasi militer seperti Irak dan Afghanistan. Jika nanti Obama sampai memerintahkan invasi militer terhadap Iran, maka diprediksi korban jiwa akan berlipat-lipat daripada Irak dan Afghanistan yang mencapai satu juta jiwa, sebab sebab penduduk Iran tiga kali Irak.

Sebenarnya politik luar negeri Bush dan Obama hampir sama, seperti dalam persoalan Palestina, Irak, Sudan, Afghanistan, Iran dan Pakistan. Adapun yang berbeda persoalan Guantanamao dan Irak, di mana Obama bertekad akan menutupnya dan menarik seluruh pasukannya dari Irak dalam waktu 16 bulan. Untuk masalah Palestina, keduanya sepakat Yerusalem menjadi ibukota Israel yang tidak mungkin dirundingkan kembali. Sementara masalah Darfur Sudan, Obama dan Bush sama-sama menyalahkan pemerintahan Presiden Omar Hasan Al Bashir atas pembantaian di Darfur dan menghendaki diterjunkannya pasukan PBB ke Darfur. Obama dan Bush sepakat dihentikannya program nuklir Iran, penambahan pasukan ke Afghanistan untuk memerangi Taliban dan Al Qaeda serta keduanya setuju pemboman dengan rudal atas sarang-sarang Taliban dan Al Qaeda di wilayah Pakistan meski diprotes Islamabad.

Menanggapi berbagai argumentasi Jerry D Gray tersebut, Ahmad Syafii Ma'arif kurang setuju jika dunia Islam sudah menilai terlebih dahulu pada Obama padahal dirinya belum memerintah. Sebab menurut alumnus Chicago State University tersebut, sebenarnya dunia Islam sendiri tidak bersatu dalam menghadapi politik luar negeri AS. Terbukti Arab Saudi dan Kuwait justru mendorong invasi militer AS ke Irak, sementara negara Islam lainnya sama menentangnya. Selain itu faham politik dan teologi di dunia Islam juga berbeda-beda, dimana ada Sunni, Syiah dan Khawarij. Dengan demikian, Syafii menyarankan agar dunia Islam instrospeksi diri mengapa sekarang umat Islam dalam kondisi lemah, sehingga tidak perlu menyalahkan orang lain.

Namun argumentasi Syafii tersebut dibantah oleh Muhammad Shoelhi dan Erma Pawitasari. Sebab menurut Shoelhi, AS yang kapitalistik dan imperialistik serta Yahudi Israel yang zionis, selama ini selalu memusuhi dan berusaha menguasai dunia Islam yang kaya akan sumber alam. Sebab hal itu sesuai dengan ideologi zionis internasional yang berambisi menguasai dunia. Bahkan Shoelhi mengingatkan AS berusaha menjajah Indonesia pasca Proklamasi 1945 dengan membonceng Belanda dan Inggris.

Sementara Erma Pawitasari menyayangkan Syafii yang pernah belajar di Negara Paman Sam dan akhirnya menjadi corong AS. Padahal sebelum berangkat ke AS awal tahun 1980-an lalu, Syafii Ma'arif dikenal sebagai aktivis Islam yang ingin memperjuangkan tegaknya ideologi Islam di Indonesia. Namun setelah belajar ke AS semuanya berubah, Syafii Ma'arif lebih dikenal sebagai pendukung demokrasi, liberalisme dan pluralisme. “Kalau kita tidak punya demokrasi dan pluralisme, lalu kita akan punya apa?”argumen murid Fazlurrahman tersebut.

Menurut Erma, siapapun yang pernah belajar di AS, otaknya akan tercuci sehingga pendiriannya dapat berubah 180 derajat dengan menjadi pendukung kuat ideologi kapitalisme. “Padahal sebenarnya umat Islam telah memiliki ideologi Islam yang jauh lebih baik dibandingkan ideologi dan paham yang lain” ungkap pengajar siswa-siswa kelas super di Jakarta itu.[halim/www.suara-islam.com]

Adam Malik Dalam Selimut CIA

Telik sandi Amerika Serikat turut campur dalam berbagai pergolakan politik di tanah air. Bekas Wakil Presiden Adam Malik disebut-sebut sebagai bekas agen CIA tertinggi di Indonesia.

Buku baru, kontroversi baru. Itu terjadi tiap kali buku-buku yang membongkar rahasia masa lalu terbit di negeri yang konon tata titi tentrem kerta raharja ini. Silang pendapat bermunculan, pro-kontra terjadi, sehingga suasana panas dan perdebatan nyaris tak ada ujung pangkalnya. Padahal banyak di antara mereka yang asal bunyi karena kurang membaca.

Hal itu pula yang terjadi setelah buku berjudul Legacy of Ashes, The History of CIA, karya Tim Weiner, wartawan kawakan dari Koran The New York Times, beredar di Indonesia sebulan lalu. Maklumlah dalam buku itu, pemenang hadiah Pulitzer 2007 ini menggeber berbagai fakta keterlibatan Central Intellegence Agency (CIA), dinas intelejan AS itu di Indonesia.

Dengan jumlah 833 halaman, kiprah telik sandi AS di Indonesia yang dimuat di buku itu sebenarnya tidak terlalu panjang. Kisah-kisah itu tertuang hanya dalam satu bab --berisi lima sub bab dan satu sub bab. Total dalam edisi bahasa Indo-nesianya, hanya 24 halaman yang bercerita tentang sepak terjang mereka di tanah air. Namun isinya cukup meng-guncangkan publik awam.

Kisah spionase dalam buku bersampul merah yang diterjemahkan denggan judul Membongkar Kegagalan CIA ini terfokus pada dua isu utama. Pertama, operasi CIA tahun 1955 1958 ketika berupaya menjatuhkan Presiden Soekarno dan mendukung PRRI/Permesta (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta). Kedua, dukungan CIA dalam gerakan kontra kudeta tahun 1965.

Masyumi dan PRRI/Permesta

Kisah keterlibatan CIA dalam upaya menjatuhkan Soekarno sudah banyak diungkap penulis dari dalam dan luar negeri. Saat itu AS tak ingin Indonesia di-pimpin seorang Pre-siden yang condong ke pemikiran sosialis/ komunis seperti Soe-karno. Tapi yang menarik diungkapkan dalam buku Weiner adalah bahwa ternyata CIA ikut bermain dalam Pemilu 1955.

Di halaman 182 Weiner mengungkap fakta mengguncang, yakni, “CIA memom-pakan US $ 1 juta ke kantong musuh politik paling kuat Soekarno, Partai Masyumi, pada pemilihan umum parlemen nasional tahun 1955...” Tapi operasi gagal. Partai Nasional Indonesia (PNI) --partainya Presiden Soekarno menang, Masyumi menjadi runner up, sementara Partai Komunis Indonesia (PKI) di peringkat keempat dengan 16 persen suara.

Hasil pemilu 1955 mengkhawatirkan AS karena PKI kian kuat. Apalagi Soekarno makin bersikap oposisi terhadap AS dan tetap mengendalikan bandul politik di Indonesia. Karena itu.. “CIA terus membiayai partai-partai politik dan sejumlah tokoh politik di Indonesia.” Sayang buku itu tak mengungkap partai dan nama tokoh-tokoh partai yang mendapat bantuan dana CIA.

Namun keterlibatan CIA dalam pemberontakan PRRI/Permesta sangat transparan. Pada 25 September 1957, Presiden Eisenhower memerintahkan CIA menggulingkan Soekarno. Tiga misi mereka: mengirim senjata dan bantuan militer untuk para komandan militer anti-Soekarno; memperkuat determinasi, kemauan dan kepaduan para perwira pemberontak di Sumatera dan Sulawesi; serta mendukung dan mendorong agar mereka bertindak sendiri-sendiri atau bersama elemen non-komunis dan anti-komunis.

Tapi misi CIA gagal. Operasi dipatahkan komandan Angkatan Darat yang telah dilatih di AS, dan bahkan “Mereka menganggap diri mereka sebagai anak-anak Eisenhower,” kata Weiner. Mereka adalah para perwira yang pernah sekolah di General Staff and College di Fort Leavenworth, seperti Ahmad Yani dan Rukmito Hendraningrat. Misi CIA makin berantakan ketika Alan Pope, agen CIA yang juga pilot pembom B-52 ditembak jatuh di Ambon.

Menunggang Ombak

Keterlibatan CIA dalam pergantian kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru bukan rahasia lagi. Kedekatan beberapa jenderal korban G-30-S/PKI dengan AS juga bukan kisah baru. Begitu pula dukungan uang dan dokumen dari Paman Sam untuk memberangus PKI dan --tentu saja Presiden Soekarno. Namun baru kali ini kisah tentang keterlibatan mantan Wakil Presiden Adam Malik sebagai agen CIA tertinggi di Indonesia disebutkan terang benderang.

Sebelumnya catatan tentang keter-libatan CIA ditulis wartawan States News Service Kathy Kadane 18 tahun silam dengan judul CIA Menyusun Daftar Ke-matian di Indonesia. Dari hasil invest-igasi dia, daftar anggota PKI itu disiapkan Sekretaris I Kedutaan Besar AS di Jakarta saat itu, Robert J. Martens. Ada 5.000 nama dalam daftar CIA yang diserahkan ke tentara.

Kadane mendapatkan info dari Martens, bahwa selama beberapa bulan di tahun 1965 1966 ia memasok ribuan nama kepada Tirta Kentjana (Kim) Adhyatman, ajudan Adam Malik. Tahun 1990, saat ditemui Kadane di Indonesia Adhyatman mengaku menerima daftar nama anggota PKI itu dari Martens, kemudian diserahkan ke Adam Malik, lalu diteruskan ke Soeharto. Dalam buku Kadane, informasi tentang Adam Malik tidak istimewa.

Maka publik terkejut ketika Weiner mengungkapkan, “CIA memiliki seorang agen yang mempunyai posisi baik, Adam Malik, mantan Marxis berusia 48 tahun dan pernah mengabdi sebagai Duta Besar di Moskwa dan Menteri Perdagangan.” Apalagi ketika ia mengutip seorang agen handler CIA. “Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik,” kata Clyde McAvoy, pejabat tinggi CIA dalam wawancara tahun 2005.

Di halaman 330, terungkap bahwa McAvoy bertemu Adam Malik di Jakarta 1964, “Dia pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut,” ujarnya. Setelah sukses merekrut Adam Malik, McAvoy berkata, “Kami mendapat persetujuan untuk meningkatkan pro-gram operasi rahasia buat mendorong sebuah baju politis di antara kelompok kiri dan kanan di Indonesia...”

Pada Oktober 1965, Indonesia terpecah dua. CIA terus mengkonsolidasi lahirnya sebuah pemerintah bayangan, yakni tiga serangkai, Adam Malik, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dan seorang perwira tinggi Angkatan Darat berpangkat Mayor Jenderal, Soeharto. Khusus untuk Adam Malik, CIA menyediakan uang tunai senilai Rp 50 juta atau sekitar US $ 10 ribu (ketika itu) untuk membiayai semua kegiatan gerakan Kap-Gestapu. Tapi ketika kisruh pasca G 30 S/PKI dipermasalahkan Kongres, yang dimotori Senator William Fulbright dari Arkansas, Duta Besar AS di Indonesia saat itu, Marshal Green, mengelak. Menurut dia, CIA sama sekali tak terlibat penggulingan Soekarno “Kami tidak menciptakan ombak-ombak itu. Kami hanya menunggangi ombak-ombak itu ke pantai,” kata Green.


Jangan Sampai Kewirangan

Karena menyangkut nama bekas Wakil Presiden, informasi ini tentu sangat mengejutkan. Para pejabat langsung menyatakan tak percaya. Wakil Presiden Jusuf Kalla misalnya. “Tak mungkin Pak Adam Malik menjadi apa yang ditulis itu (agen CIA),” ujarnya. Alasannya, dia pendiri Murba yang sosialis dan berbeda kepentingan dengan AS. Tapi Kalla lupa, Adam Malik pernah menyatakan diri keluar dari Murba.

Keluarga Adam Malik pun menyesalkan isi buku Weiner yang seolah menggambarkan Adam Malik berada dalam selimut CIA. Mereka meminta pemerintah mengklarifikasi. “Ini bisa mencederai kehidupan bangsa,” kata Antarini Malik, putri Adam Malik, pekan lalu. Tapi Sekjen PKS Anis Matta malah menganggap munculnya buku ini perlu diwaspadai karena berpotensi merusak hubungan baik Indonesia dengan Amerika Serikat.

Padahal, meski menyarankan agar Departemen Luar Negeri meminta klarifikasi resmi dari Pemerintah AS dan CIA, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Muladi meminta agar pemerintah tidak reaktif dalam menanggapi isu Adam Malik agen CIA. “Kalau terlalu agresif nanti salah-salah kita bisa kewirangan. Kita bisa dibuat malu kalau ternyata informasi itu terbukti benar,” ujarnya.

Lewat sebuah e-mail, Weiner telah meminta maaf atas kontroversi ini. “Saya tak bermaksud menghina kenangan terhadap Adam Malik, terhadap keluarga atau rakyat Indonesia,” ujarnya kepada Beritajatim.com. Namun ia memastikan, buku itu dapat dipertanggungjawabkan, karena merupakan hasil kerja selama 20 tahun, berdasarkan lebih dari 300 wawancara, dan ribuan dokumen valid. “Buku ini bersifat on the record. Tak ada sumber tanpa nama, tak ada kutipan buta, dan tak ada gosip,” ujarnya.

Memang, jarang ada buku yang menulis secara komprehensif tentang kiprah CIA seperti buku ini. Sebab, buku ini adalah sari pati dari 50 ribu lebih dokumen, khususnya dari arsip-arsip CIA, White House, dan departemen luar negeri, yang telah dideklasifikasi, atau diumumkan kepada publik, setelah berlalu 35 tahun.

Maka bukan tak mungkin jika beberapa tahun nanti nama-nama agen, komprador, jongos, hingga cecunguk Amerika yang senang menjual Indonesia, hobi menggadaikan aset bangsa dan gemar mengkhianati ummat akan kita bisa lihat daftarnya nanti. Tinggal anak cucu mereka nanti yang harus menanggung malu karena tiba-tiba mendapat cap di dahi sebagai anak cecunguk Amerika. [Abu Zahra/www.suara-islam.com]

Kamis, Maret 05, 2009

Gereja Akui Dalangi Kristenisasi Di Garut

Pelaku pemurtadan yang terjadi di Desa Karangtengah, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat, medio Januari lalu akhirnya terkuak. Setelah melakukan investigasi, Gerakan Reformis Islam (Garis)menemukan fakta bahwa pemurtadan terhadap 34 warga di Kadungora itu dilakukan Gereja Masehi Advent Hari ke-7.

Senin (23/2) kemarin, aktivis Garis sempat mendatangi gereja dan meminta klarifikasi terkait aksi pemurtadan itu. Masalah itu lalu disepakati untuk diselesaikan dengan berdialog di ruang paripurna DPRD Kota Garut. Dialog itu dihadiri anggota Komisi D DPRD, perwakilan dari gereja, Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Garut, Polsek Kadungora, pemerintah daerah, ormas Islam, dan LSM.

Ketua Garis, Suryana Nurfatwa, mengecam keras aksi pemurtadan yang dilakukan non-Muslim kepada umat Islam. Menurut dia, tindakan tersebut telah melanggar Keputusan Menteri Agama No 70 tahun 1978 tentang Penyiaran Agama. Dalam kepmen itu tercantum aturan 'siapa pun tidak boleh menyebarkan agama kepada orang yang sudah beragama'.

Menurut Suryana, warga Kadungora yang dimurtadkan itu sudah jelas beragama Islam. ''Jadi, tidak boleh menyebarkan agama lain kepada mereka,'' katanya. Garis mendesak dibuat perjanjian agar gereja tersebut tak mengulangi perbuatannya. Ia mengungkapkan, upaya pemurtadan tak hanya terjadi di wilayah tersebut.

Sebelumnya, tegas dia, pemurtadan juga sempat dilakukan di Kec Cisewu, Garut; Kec Soreang, Kab Bandung (sebanyak 103 orang); dan di Kec Cikalongwetan, Kab Bandung Barat.

Pendeta Oliver Tambunan yang mewakili Gereja Masehi Advent Hari ke-7, lebih banyak bungkam. Setelah Garis mendesak agar pihak gereja meminta maaf, Pendeta Oliver mengiyakannya. Oliver juga setuju untuk meminta maaf secara terbuka di sejumlah media cetak lokal.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kholil Ridwan, mengatakan, guna mengatasi aksi pemurtadan yang kian marak perlu adanya upaya yang dilakukan bersama-sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, ulama, dan warga sekitar.

Mengenal Gereja di Garut

Bangunan Gereja Masehi Advent Hari Ke-7 didirikan pada tahun 1927 di atas tanah seluas 700 m2 dengan luas bangunan 77 m2 oleh orang-orang Belanda yang beragama Kristen Advent. Setelah Indonesia merdeka pernah dijadikan markas tentara RI sektor Garut Kota. Pada tahun 1950 (setelah kedaulatan RI) oleh Komandan Sektor, Bpk. Aang Kunaefi, atas persetujuan Bupati Garut (R. Tumenggung Kartahudaya) gereja ini diserahkan kepada Yayasan Gereja Masehi Advent Hari Ke-7 Cabang Garut.


Arah muka bangunan menghadap ke sebelah Timur dengan batas areal bangunan sebelah Barat dibatasi rumah penduduk, sebelah Utara dibatasi gedung PLN, sebelah Timur dibatasi Jalan Pramuka dan sebelah Selatan dibatasi oleh rumah penduduk. Di belakang bangunan gereja dilengkapi pastoran (tempat tinggal pendeta) dan kantor. Bangunan gereja yang hampir mirip kerucut ini, merupakan salah satu bangunan tua peninggalan kolonial Belanda yang belum mengalami pemugaran sampai sekarang. [af/dakta/www.suara-islam.com]

Dalam waktu dekat ini, Presiden AS Barack Obama akan mengumumkan jadwal penarikan pasukan militernya dari Irak. Sejumlah pejabat AS yang tidak bersedia disebutkan identitasnya Rabu (25/2) mengkonfirmasikan keputusan Barack Obama yang menetapkan jadwal penarikan pasukan Amerika dari Irak selama 19 bulan. Diprediksi, Obama Jumat (27/2) akan mengumumkan waktu penarikan pasukan AS dari Irak.

Sebelumnya, Barack Obama dalam kampanye pemilunya tahun 2008 berkomitmen jika dirinya terpilih melenggang ke Gedung Putih, maka ia akan menarik pasukan Amerika dari Irak selama 16 bulan. Terkait hal ini, Wakil Presiden AS, Joseph Biden mengkonfirmasikan pihaknya akan menepati janji Obama di pemilu. Namun tampaknya, Obama mendengarkan petuah para penasehat militernya dan ia akan menarik pasukan AS dari Irak secara bertahap dan terkendali.

Departemen Pertahanan Amerika, Pentagon menetapkan jadwal penarikan pasukan negara ini dari Irak dalam tiga periode berbeda yaitu 16 bulan, 19 bulan dan 23 bulan. Sejumlah komandan militer AS yang ditugaskan ke Irak sebelumnya memperingatkan penegasan Obama terkait penentuan penarikan pasukan AS dari Irak selama 16 bulan. Setelah beberapa minggu berdialog dengan para komandan tinggi angkatan bersenjata AS, Obama tampaknya menerima penarikan 142.000 tentara AS dari Irak dalam proses yang lebih lamban.

Berdasarkan kesepakatan Pakta keamanan Baghdad-Washington (Sofa), Amerika harus menarik seluruh pasukannya dari Irak hingga akhir tahun 2011. Diprediksi, sebagian anggota pasukan yang ditarik dari Irak akan bergabung dengan pasukan AS di Afghanistan. Berbeda dengan Bush, Obama memfokuskan agenda perang terhadap terorisnya bukan di Irak tetapi di Afghanistan. Dengan demikian, Obama berupaya meningkatkan jumlah pasukannya di negara tersebut. Beberapa waktu lalu, Obama dalam keputusan besar militer pertamanya menginstruksikan pengiriman 17.000 tentara ke Afghanistan.

Perang di Irak terus menghadapi penentangan luas dari rakyat AS. Berdasarkan polling bersama ABC dan koran The Washington Post, 61 persen responden menyatakan bahwa perang Irak tidak bernilai dibandingkan anggaran yang dikeluarkan. Sejak permulaan serangan militer AS ke Irak pada bulan Maret 2003 hingga kini, lebih dari 4.200 tentara AS tewas di Irak. korban tentara AS di Irak merupakan terbesar di luar negeri pasca perang Vietnam, tiga puluh tahun lalu.

Dari sisi biaya, perang terhadap teroris di Irak dan Afghanistan termasuk perang berbiaya terbesar dalam sejarah Amerika pasca perang dunia kedua. Sejak 11 September 2001 hingga kini, lebih dari 900 milyar dolar AS digunakan untuk membiayai perang Irak dan Afghanistan. Perang Irak saja telah menelan biaya lebih dari 600 milyar dolar AS. Obama berulang kali menegaskan bahwa kedua perang ini adalah warisan pemerintahan Bush. Obama, dalam upaca pelantikan jabatannya 20 januari lalu, berjanji akan menyerahkan tanggungjawab keamanan Irak kepada bangsa Irak. (ir/mj/www.suara-islam.com)

Ratusan Ribu Tentara Amerika Sakit Jiwa

Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 300 ribu tentara Amerika yang ditugaskan dalam berbagai perang kini mengidap penyakit jiwa. Surat kabar New York Times kemarin (Selasa, 03/03) dalam laporannya menulis,

berdasarkan data Institute Rand, sekitar 320 ribu tentara Amerika mengalami masalah di otaknya. New York Times lantas mengkritik pemerintah Amerika yang tidak memiliki program di Irak dan Afganistan yang berpangruh pada kondisi ekonomi negara dan menulis, krisis ekonomi Amerika dan bangkrutnya bank-bank negara ini menyebabkan rakyat harus menurunkan tingkat kualitas kehidupan mereka, sementara Amerika masih asik membiayai miliaran dolar untuk perang Afganistan dan Irak.

Sekitar 300 ribu tentara Amerika Serikat (AS) yang kembali dari Irak dan Afghanistan, menderita gejala kelainan stres pasca-traumatik atau depresi, dan setengah dari mereka tidak mendapat perawatan, ungkap suatu studi independen, Kamis. Penelitian oleh RAND Corp. itu juga memperkirakan bahwa 320 ribu tentara lainnya kemungkinan mengalami cedera otak traumatik saat bertugas.

Para peneliti itu tidak bisa menyebutkan jumlah kasus yang parah atau yang perlu mendapat perawatan. Studi yang diumumkan sebagai survai berskala besar pertama non-pemerintah untuk masalah tersebut, mendapati bahwa kelainan stres dan depresi terdapat pada 18,5 persen dari 1,5 juta AS lebih tentara AS yang dikirim ke dua medan perang tersebut.

Angka tersebut kira-kira sama dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Suatu penilaian yang dilakukan pada bulan Februari oleh Angkatan Darat AS memperlihatkan bahwa pada tahun 2007, sebanyak 17,9 persen pasukan mereka di Irak dan Afghanistan menderita stres akut, depresi atau kegelisahan. Pada tahun 2006 jumlah tentara yang mengalami gejala tersebut mencapai 19,1 persen.

Hasil studi setebal 500 halaman dari RAND menyebutkan bahwa hanya setengah dari tentara tersebut mendapatkan perawatan, itupun lima puluh persennya hanya mendapatkan perawatan yang "memadai secara minimal". Studi tersebut disusun berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada lebih dari 1.900 tentara angkatan darat, pelaut dan Korps Marinir.

"Ada krisis besar yang dihadapi personel-personel yang sudah membaktikan diri mereka di Irak dan Afghanistan," kata Terri Tanielian, peneliti dari RAND yang juga salah satu pemimpin studi tersebut. "Mereka harus mendapatkan perawatan yang memadai dan efektif untuk masalah-masalah mental tersebut, jika tidak, akan ada akibat jangka panjang bagi mereka maupun bagi bangsa ini."

Studi itu menyebutkan bahwa banyak personel tidak berusaha mendapatkan perawatan karena khawatir stigma yang diasosiasikan dengan masalah psikologi dapat membahayakan karier mereka. Kelainan stres pasca-traumatik atau PSTD, dapat disebabkan dari trauma saat berperang, seperti mengalami luka atau menyaksikan orang yang terluka.

Gejalanya antara lain sifat lekas marah atau kemarahan yang meledak, sulit tidur, susah konsentrasi, waspada secara berlebihan dan respon berlebih atas keterkejutan.RAND menganjurkan agar Pentagon (markas besar angkatan bersenjata AS) membuka jalan bagi para personel untuk mendapatkan perawatan kesehatan mental secara rahasia dan memantau mutu perawatan tersebut.

Kolonel (AD) Loree Sutton, direktur U.S. Defense Center of Excellence for Psychological Health and Traumatic Brain
Injury, menyambut baik hasil studi tersebut. Dia prihatin bahwa ternyata hanya sekitar setengah dari mereka yang mencari perawatan, mendapatkan perawatan "memadai secara minimal". Sutton mengatakan dirinya akan memacu militer untuk berusaha lebih keras merekrut tambahan spesialis perawatan kesehatan jiwa.

Angkatan Darat AS akan mempekerjakan 275 profesional kesehatan mental dari kalangan sipil namun rencana itu terkendala oleh ketatnya pasar kerja serta kesulitan mendapatkan sipil yang bersedia bekerja di medan tempur. RAND, organisasi swasta tersebut, memperkirakan bahwa stres dan depresi pada para tentara yang pulang telah menghabiskan dana 6,2 miliar dolar selama dua tahun sejak penugasan mereka selesai. Dana tersebut dihitung berdasarkan hilangnya produktivitas, biaya pengobatan dan risiko bunuh yang lebih tinggi untuk bunuh diri.


Jadwal sholat