Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan

Rabu, Maret 04, 2009

Tipuan Pendeta Rudy Muhamad Nurdin

Pendeta Rudy Muhamad Nurdin memang nekat. Sebagai pendeta dan dosen di Sekolah Tinggi Teologi, Rudy mengaku muslim. Pengakuan Pendeta Gereja Kristen Maranatha Indonesia (GKMI) Rawamangun, Jakarta Timur ini, muncul dalam tulisan berjudul : Keselamatan untuk Akhir Hayat halaman 2.

Ternyata, pengakuan ini hanya tipuan untuk mengelabui pembaca. Pada buku yang sama halaman 41, tulisan pendeta yang biasa disapa Nurdin ini, terungkap kedoknya. Menurutnya, syarat masuk Islam bukan ikrar dua kalimat syahadat, menjalankan rukun Islam dan rukun Iman, tapi memperoleh "Urapan wahyu Ruhul Kudus".

Meskti tak paham bahasa arab, Nurdin nekat menulis belasan buku dengan judul bahasa Arab dan Indonesia. Akibatnya, semua tulisannya menyalahi kaidah bahasa Arab. Misalnya, Kbenaran yang benar ditulis dengan bahsa Arab ash-Shodiq al-Mashduuq. Padahal ash-Shodiq al-Mashduuq berarti orang jujur yang dibenarkan.

Buku Keselamatan untuk Akhir Hayat oleh Nurdin diterjemahkan menjadi Salaamatul Akhirotul Khoyat. Dalam bahasa Arab, kalimat Salaamatul Akhirotul Khoyat ini tak bisa dipahami sama sekali. Seharusnya judul yang benar adalah as-Salaamah li-Aakhiratil Hayat.

Selain itu, Nurdin juga menulis sejarah Rasulullah saw tanpa data dan literatur valid. Dalam tulisannya, ia menyatakan, Nabi Muhammad sebelum menjadi Nabi, belajar (kursus) Bibel (Taurat dan Injil) pada Siti Khadijah sampai hapal ayat-ayat Taurat dan Injil (Ayat-ayat Penting di Dalam Al-Qur'an, halaman 59).

Nurdin juga menulis, Nabi menikahi wanita Kristen dengan tata cara Kristen, dipimpin oleh penghulu beragama kristen, dibacakan khutbah nikah dari ayat-ayat Bibel, dan mendapat kado Alkitab (Ayat-ayat Penting di Dalam Al-Qur'an, halaman 68; Keselamatan di dalam Islam halaman 24,53). Ia juga menulis, sebelum menjadi Nabi, Muhammad beribadah secara kristen selama 15 tahun (Keselamatan di Dalam Islam, halaman 35).

Pendeta Nurdin juga memanipulasi ayat-ayat al-Qur'an dengan mengganti lafadz Allah menjadi lafadz Taurat dan Injil Isa. Kata ganti Allah diganti dengan kata Nabi Isa. Lafadz al-Qur'an diganti dengan lafadz Alkitab atau Bibel. Lafadz Sunnah Rasul diganti menjadi Kisah Para Rasul (nama salah satu kitab dalam Bibel), dan lainnya.

Kesalahan yang selalu diulang Pendeta GMKI ini adalah salah kaprah dalam memaknai kata "Alkitab" dan "Kitabullah". Menurut Nurdin, Alkitab atau Kitabullah yang dimaksud al-Qur'an dan Hadits adalah Alkitab (Bibel). Karenanya, semua kata Alkitab dan Kitabullah diubah menjadi Alkitab dan ditulis dengan huruf besar (kapital).

"Kitab (al-Qur'an ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi maha Bijaksana. Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (al-Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya," (QS az-Zumar:1-2).

Ayat ini diubah oleh Nurdin menjadi : "Kitab (Alkitab) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya KAMI menurunkan kepadamu Kitab (Alkitab) dengan menbawa KEBENARAN. Maka sembahlah ALLAH dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya" (Kebenaran Yang benar, halaman 92).

Contoh manipulasi lainnya, "Kutinggalkan untuk kamu dua perkara, tidaklah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya," (HR Malik). Oleh Nurdin, diubah menjadi "Kutinggalkan untuk kamu dua perkara, tidaklah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang kepada keduanya, yaitu Alkitab dan Sunnah Rasul-Nya (Kisah para Rasul Alkitab)," (Ayat-ayat Penting di dalam Al-Qur'an, halaman 3).

Memang, dalam al-qur'an banyak disebut kata "Alkitab", antara lain al-Qur'an yang berarti bacaan (QS al-QiyamahL17-19, al-Isra:88). Alkitab yang ebrarti Kitabullah atau kitabnya Allah (QS al-Baqarah:2, az-Zumar:41). Al-Furqab yang berarti pembeda (QS al-Furqan:1, Ali Imran:4). Adz-Dzikr yang berarti peringatan (QS al-Hijr:9, an-Naml:44). Asy-Syifa yang berarti obat (QS Yunus:57, Fushshilat:44). Al-Huda yang berarti petunjuk (QS Fushshilat:44, al-Mursalat:13). Al-Hikmah yang berarti kebijaksanaan (QS al-Isra:39, Luqman:2). An-Nur yang berarti cahaya (QS at-Taghabun:8) dan masih banyak lagi.

Nurdin memperalat ayat-ayat ini untuk menjustifikasi Alkitab. Padahal, kata "Alkitab" dalam al-Qur'an memiliki banyak pengertian. Pertama, semua kitab suci yang pernah diturunkan Allah kepada para Nabi dan Rasul-Nya (QS al-Baqarah:177). Kedua, menunjuk pada semua kitab suci yang diturunkan sebelum al-Qur'an (QS ar-Ra'd:43). Ketiga, menunjuk pada kitab suci tertentu sebelum al-Qur;an, misalnya Taurat (QS al-Baqarah:87). Keempat, menunjuk pada kitab suci al-Qur'an secara khusus (QS al-Caqarah:2, az-Zumar:1-2), dan lainnya.

Umat Islam mengetahui banyaknya nama - nama al-Qur'an sesuai kemuliaannya, karena Allah sendiri yang memberi nama pada kitab suci yang diturunkan-Nya itu/ Al-Qur'an adalah kitab suci yang nama dan jaminan keasliannya disebutkan secara langsung oleh Allah SWT dalam surah al-Baqarah:185 dan al-Hijr:9.

Bagaimana dengan kitab suci Kristiani?. Dalam bahasa Inggris, kitab ini disebut "The Bible". Diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi "Alkitab", tapi sebagian orang menyebut bibel. The Bible dan Alkitab, merupakan terjemahan dari "biblia". Dalam bahasa Yunani, kata ini adalah bentuk jamak yang berarti kumpulan kitab-kitab. Bentuk tunggalnya adalah "biblion" (sebuah kitab).

Karenanya, "Alkitab" (satu buah kitab) adalah penamaan yang salah kaprah. Nama yang benar adalah "al-Kutub" yang berarti kitab-kitab. Selain itu, nama "Alkitab" untuk sebutan kitab suci Kristiani ini, juga tak disebutkan secara jelas dalam Bibel. Sungguh aneh jika Tuhan tak memberi nama kitab suci-Nya. (FAKTA/SABILI)

Awas Qasidah Nasrani (2)

Lirik dan syair qasidah Kristen karya penginjil asal Lamongan, Jawa Timur yang menyebut dirinya Yosua, memang kental bahasa arabnya. Tujuannya jelas, agar umat Islam bisa disusupi ajaran Kristen, Tapi, umat Islam bukan kaum terbelakang yang mudah diperdaya.

Meski dialihbahasakan ke seribu bahasa, jika isinya tentang trinitas dan yesus kristus, umat sudah paham. Apalagi jika bahasa Arab yang digunakan salah susunan tata bahasanya, sang penginjil akan tertipu oleh dirinya sendiri.

Misalnya syair lagu Isa Kalimatulloh. "Fii-bad'i kana al-kalimah. Wa kana al-kalimatu kana 'indillaahi. Huwa fii-bad'i kana 'indillaahi. Bihi ma kana kullu syai'in wa bighoirihi makana syai'in mimma kana". Sang penginjil, seharusnya menulis "indalloohi" bukan "indillaahi", Kata "al-kalimatu" tidak memakai huruf alif. Kata "wal-kalimatu" ditulis "wa kana al-kalimatu". Padahal, syair ini mengutip Injil Yohanes 1:1-3.

Lagu berjudul "Nahmaduka Ya Allah", lirik dan syairnya mirip dengan qasidah umat Islam. Secara umum, syairnya tak bermasalah secara akidah Islam. Berikut kutipannya : "Nahmaduka ya Allah, nahmaduka ya Allah, Ana nad'u la asmika, ana nad'u la asmika. Allahy ma'rufun lil-mustaqim sholihun lianqiyail qulub".

Terjemahannya, "Kami syukur ya Allah. Aku serukan nama-Mu. Allah itu sungguh baik bagi yang bersih hatinya". Tapi, secara kaidah bahasa Arab, banyak kesalahannya. Misalnya, kata "ma'ruuf", "syukur" dan "al-quluub" ditulis tanpa huruf "wawu mati". Persoalannya, syair ini menjadi alat propaganda Yahudi dengan menyisipkan kalimat "Allahu 'adhimun fi Isra'il" ( Allah itu terkenal di Israel).

Pesan rasialis lain, misalnya pernyataan tidak ada Allah kecuali di Israel. "Sekaang aku tahu, bahwa diseluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu, terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini" (II Raja-raja 5:15).

Demikian juga dengan lagu berjudul Allahu Akbar. Lirik dan nadanya serupa dengan qasidah umat Islam. Syairnya juga cukup bagus. Berikut kutipannya, "Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, pujilah asma Allah. La ilaha illallah, Tinggikan nama Tuhan. Allahu Akbar fil jannah, tiada yang seperti Dia. Allahu Akbar fiddunya, Allahu Akbar fil-jannah, Allahu ya Allah, pujilah asma Allah".

Tapi, yang serupa belum tentu sama. Karena, dalam syair Allahu Akbar ini diselipkan kalimat "Ya Robbi Al-Masih". Kalimat inilah yang melanggar akidah Islam. Dalam Islam, Allah SWT memiliki sifat Maha Besar (al-kabir). "Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS al-Hajj:62, baca juga ar-Ra'd:9 dan al-Mukmin:12).

Karena tak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah (QS asy-Syura:11, al-Ikhlas:4), satu-satunya yang layak dan berhak disebut Allahu Akbar (Allah Maha Besar) hanya Allah SWT. Menyebut makhluk ciptaan Allah sebagai Allahu Akbar adalah pelanggaran akidah, disebut musyrik (mempersekutukan Allah).

Keesaan Tuhan dalam Islam juga diakui teolog kristen. Pendeta Dr. Harun Hadiwijono mengakui dalam bukunya Inilah Sahadatku. "Bagi agama Islam dosa yang tidak dapat diampuni adalah syirik, yaitu mempersekutukan Allah. Dalam al-Qur;an surah 4:48 disebutkan, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, sekalipun Tuhan berkenan mengampuni dosa selain daripada dosa syikrik itu. Agama Islam memang menekankan sekali keesaan Allah," (hlm 195).

Jadi, syair qasidah yang menyebut Isa Almasih sebagai Allahu Akbar, adalah dosa besar yang memusyrikan Allah. Karena Nabi Isa menolak penuhanan terhadap dirinya (QS al-Maaidah:116-118).

Kemusyrikan itu bermula dari doktrin Trinitas (tritunggal) yang diyakini umat Nasrani. Brosur yang dikeluarkan Sekolah Tinggi Teolog Joseph KAM menyebutkan, Allah Tritunggal terdiri dari tiga pribadi, yaitu Allah Bapak, Allah Anak (Yesus) dan Allah Roh Kudus.

"Allah memiliki tiga pribadi yang setara, sehakikat, sekehendak, satu zat, tidak bercampur, tidak berpisah dan tidak berasal mula. Allah bukan hanya Bapak saja, tapi juga Yesus dan Roh Kudus. Bapak bukan Allah dalam keseluruhannya, tapi juga Yesus dan Roh Kudus. Yesus Kristus adalah seratus persen Allah dan seratus persen manusia, namun Allah bukan hanya Yesus Kristus saja, tetapi juga Bapak dan Roh Kudus."

Doktrin diatas adalah slogan yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, karena tak sesuai dengan fakta yang ada. Bibel sendiri menunjukkan bahwa Yang Maha Besar hanya Tuhan, "Sebab Tuhan Maha Besar sangat terpuji, Ia lebih dahsyat daripada segala Allah," (Mazmur 96:4).

"Tuhan itu Maha Besar dan Tuhan kita itu melebihi segala Allah," (Mazmur 135:5). Sifat Tuhan kekal tak berubah selamanya (Maleakhi 3:6) dan tidak ada yang menyamai-Nya karena tak ada ilah sebelum dan sesudah Dia (Yesaya 43:10). Bibel juga menantang manusia yang ebrbuat musyrik pada-Nya, dalam firman-Nya, "Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?" (Yesaya 40:18).

Faktanya, tak ada yang berani menjawab tantangan ini, termasuk Yesus Kristus yang diklaim sebagai "Allahu Akbar" oleh para penginjil. Padahal, Yesus sendiri tak berani menyebut dirinya Allahu Akbar. "Bapaku, yang memberikan mereka kepadaku, lebih besar daripada siapapun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa," (Yohanes 10:29).

Kini, setelah dua puluh abad sepeninggal Yesus dari dunia, muncul penginjil yang lancang memberi gelar "Allahu Akbar" pada Yesus. Gelar ini jelas salah alamat. Selain salah secara teologis, syair qasidah yang diciptakannya juga salah secara bahasa. (FAKTA/sabili)

Awas Qasidah Nasrani (1)

Biasanya, syair qasidah berisi tentang dakwah dan peringatan bagi umat Islam. Meski bukan warisan Nabi, qasidah yang digemari kebanyakan umat Islam Indonesiag ini identik dengan budaya Islam. Tapi, para penggemar qasidah, harus waspada. Pasalnya, sentuhan seni ala qasidah bisa dijadikan alat pemurtadan oleh para penginjil.

Salah satunya dilakukan oleh seorang penginjil asal lamongan, Jawa Timur. Ia merilis album qasidah Nasrani yang berisi enam lagu berbahasa Arab, dua lainnya berbahasa Indonesia dan Ibrani. Keenam lagu berbahasa Arab itu berjudul "Isa Almasih Qudrotulloh, Allahu Akbar, Laukanallohu Aba'akum, Isa Kalimatullah, Ahlan Wasahlan Bismirobbina, Nahmaduka Ya Allah".

Pada sampul kaset yang berdurasi 40 menit, terdapat hiasan kaligrafi khat Arab yang melingkari kata Ta'alau ilayya. Masyarakat awam bisa terkecoh dan menganggap sebagai kaligrafi al-Qur'an. Padahal, kaligrafi ini berbunyi :"Ta'alauu Ilayya ya jamili'al mu'tabiina watstsaqiilii al-ahmaali qa ana urihukum.". Kalimat ini adalah terjemahan bahasa Arab Injil Matius 11:28-30, "Marilah kepadaku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, aku akan memberi kelegaan kepadamu."

Dalam pengantarnya, sang vokalias yang mengaku sebagai mantan ustadz dari Lamongan itu menulis, "Syukron Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yesus karena begitu besar kasih karunia-Nya sehingga album ini bisa terselesaikan dengan baik tanpa halangan suatu apapun. Kami sangat berharap, dengan album bahasa Arab ini, bisa menjadi berkat untuk semua kalangan dan dapat dimengerti serta diterima oleh semua masyarakat. Selain daripada itu, dengan lagu bahasa Arab ini semoga bisa mengubah paradigma masyarakat akan kekristenan secara benar."

Jelas sudah, lagu Kristen berirama padang pasir ini bertujuan menjajakan ajaran Kristen dan doktrin Ketuhanan Yesus pada semua orang. Langkah ini salah besar, karena bertentangan dengan ajaran Yesus.

Pertama, Yesus tek pernah memerintahkan para muridnya untuk memanjatkan puji syukur padanya. Injil Lukas mengisahkan, seorang pengemis tuna netra di Yerikho yang disembuhkan Yesus dengan izin Allah hingga bisa melihat, bergembira dengan bersyukur pada Allah, bukan pada Yesus (Injil Lukas 18:35-43). Seluruh rakyat yang menyaksikannya pun turut memuji-muji Allah, bukan Yesus. Ketika memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai keledai, Yesus diiringi murid-muridnya dengan gembira seraya memuji Allah, bukan Yesus (Lukas 19:35-37).

Para Nabi dalam Perjanjian Lama juga tak ada yang memanjatkan puji-pujian pada Yesus. Mereka hanya memuji dan bersyukur pada Allah. Nabi Daud mengajarkan untuk memuji Allah (I Samuel 25:32, Mazmur 41:14, mazmur 113:1, Mazmur 150:1). Selain itu, memanjatkan puji syukur pada Yesus nertentangan dengan Alkitab. "Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab dari pada Dialah hikmat dan kekuatan" (Daniel 2:20)

Kedua, Yesus mewanti - wanti pada murid untuk menyebarkan ajarannya hanya pada domba-domba yang yhilang dari umat Israel. Mewartakan ajaran Yesus pada bangsa lain adalah sebuah penyimpangan di mata Yesus (Injil Matius 10:5-6)

Pada side A di mulai dengan lagu "Isa Almasih Qudrotulloh". Liriknya antara lain berbunyi, "Isa Almasih Qudrotulloh. Lianna fiihi a'laanallohu. Ana huwa thooriiqu walhaqqu walhabaatuhu. Laa baaji'uu ahadun ilal aba illa bib". Dalam album ini, kalimat tersebut diartikan : "Isa Almasih kekuatan Allah, di dalam dia nyata kebenaran-Nya. Akulah jalan, kebenaran dan hidup, tak seorangpun yang datang kepada Bapa kecuali lewat aku."

Penginjil menganggap, umat islam akan tertipu dengan hal - hal yang berbau Arab. Mereka berharap, umat Islam bisa digiring pada doktrin Kristen melalui "budaya Islam" sendiri. Padahal, umat Islam tak sebodoh itu. Umat Islam justru akan tertawa, mencibir lantunan sang penginjil ini. Apalagi, syair yang didendangkan menyalahi kaidah bahasa Arab.

Kata "al-qudrotu" dan "al-hayatu" yang seharusnya ditulis dengan huruf ta' marbuthph (tertutup) justru ditulis dnegan huruf ta' maftuhah (terbuka). Kata "almasiihu" ditulis tanpa memakain huruf "ya". Kata "ath-thoriiqu" yang seharusnya "ma'rifah" (definite) ditulis "nakirah" (indefinite). Kata "al-hayaatu" yang sudah jelas ma'rifat, dijadikan mudhof (disandarkan) pada dhomir (kata ganti) "hu" (dia). Ini membuktikan, pengakuan sang penginjil sebagai mantan ustadz layak diragukan kebenarannya.

Syair "Lianna fiigi a'laanallohu" yang diterjemahkan menjadi "di dalam dia nyata kebenaran-Nya", sama sekali tak jelas juntrungannya. Kata "a'laan" berasal dari "a'lana-yu'linu" yang berarti "mengumumkan". Kata "i'laan" berarti "pengumuman". Oleh bahasa Indonesia diserap menjadi "iklan". Maka "lianna fiihi a'laanallohu" tak bisa diterjemahkan dengan tepat karena akan menyalahi kaidah bahasa Arab. Dalam injil berbahasa Arab, syair ini terdapat dalam tulisan Paulus yang memusuhi Yesus. "Lianna fiihi mu'lanun birrullohi" (sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah). (Kitab Roma 1:17).

Syair yang paling fatal kerusakannya adalah "Ana huwa thoriiqu wal-haqqu wal-habaatuhu. Laa baaji'uu ahadun ilal aba illaa bib". Jika kalimat ini ditanyakan pada orang Arab, mereka tidak ada yang paham. Kalimat ini diambil dari Injil Yohanes 14:6 yang sangat populer di gereja. Dalam ayat ini, teks Arab yang benar adalah "ana huwa ath-thoriiqu wal-haqqu wal-hayaatu. Laisa ahadun ya'tii ilal aabi illaa bii".

Jika para penginjil tak mau disebut "Ente Bahlul", sebaiknya qasidah ini ditarik dari peredaran. (bersambung/sabili)

Kata "Insya Allah" pada al-Qur'an dan Bibel

Meski usang, buku tulisan Ev Jansen Litik masih jadi primadona. Padahal, buku berjudul Lima Alasan Pokok Tentang ini al-Qur'an Yang Menyebabkan Kami Meninggalkan Islam dan Beralih Menjadi Pemeluk Kristen ini, tidak ilmiah dan banyak mengandung kesalahan.

Kesalahan ini membuahkan kesimpulan yang juga salah. Contohnya, terlihat pada kalimat penutup, "al-Qur'an itu bukan wahyu Allah, melainkan hanya satu Kitab Insani yang isinya kurang lebih 75% hasil jiplakan yang lihai dari isi Alkitab ditambah kurang lebih 25% hasil buah fikiran, imajinasi, rekaan, kreasi dari Muhammad dan kawan - kawannya yang menulis al-Qur'an itu dengan diberi selimut kamuflase seolah-olah sebagai 100% Wahyu Allah", (hlm 39).

Jika 75% al-Qur'an itu menjiplak Bibel, berarti ada 5.000 ayat al-Qur'an yang isinya sama dengan Bibel. Dapatkan Litik membuktikan 5000 ayat al-Qur'an yang dituduh menjiplak Bibel? Kesimpulan Litik sangat tak berdasar.

Memang ada persamaan antara al-Qur'an dengan kitab-kitab sebelumnya. Tapi, dalam banyak ayat, al-Qur'an justru melakukan penghapusan (nasikh), pengujian (muhaiminan alaih) dan pembetulan/koreksi (mushaddiq) terhadap kitab-kitab terdahulu, termasuk pada Bibel.

Sebagai mushaddiq (to correct), al-Qur'an mengoreksi ayat-ayat yang sudah menyimpang. Contoh koreksi al-Qur'an terhadap beberapa ayat Bibel. Kitab Roma 10:9 yang menyatakan, Allah membangkitkan Yesus sebagai Tuhan. Ayat ini dikoreksi karena bertentangan dengan Atuhid (QS al-Ma'idah 72-73). Taurat dalam Bibel mengisahkan, Nabi Luth sebagai ayah bejat yang menghamili kedua puteri kandungnya(Kitab Kejadian 19:30-38), dikoreksi al-Qur'an bahwa Nabi Luth adalah Nabi Allah yang saleh dan mulia derajatnya (QS al-An-am 86, al-Anbiyaa 74-75, Luth 133).

Ayat Bibel yang mengisahkan, Nabi Daud berzina dengan isteri orang (II Samuel 11:1-27) dan Nabi Sulaiman yang dikisahkan, sebagai lelaki yang rakus wanita. Keduanya diralat al-Qur'an dalam surat Shaad 30. Taurat dalam Bibel mengisahkan, Nabi Nuh pernah minum anggur sampai teler dan telanjang bugil (Kitab Kejadian 9:18-27), dikoreksi oleh al-Qur'an dalam surat Ali Imran 33 dan Al-Israa 3.

Ayat-ayat Bibel juga menulis sebagai berikut : Tuhan kelihatan kaki-Nya (Keluaran 24:10), Tuhan kelihatn punggung-Nya (Keluaran 33:23), Tuhan mengerang kesakitan seperti perempuan hamil (Yesaya 42:14), Tuhan pelupa sehingga tidak ingat alas kaki-Nya ketika marah (atapan Yeremia 2:1), Tuhan seperti orang teler yang siuman dari mabok anggur (Mazmur 78:65), dan lain-lain.

Ayat - ayat Bibel yang melecehkan Tuhan ini tak mungkin dibenarkan. "Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Dia (Allah), Dan Allah maha Mendengan lagi Maha Melihat," (QS as-Syura 11). "Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (Allah)," (QS al-Ikhlas:4).

Menurut Litik, salah satu alasan umat Islam murtad, karena ajaran "insya Allah" dalam Islam tidak relevan. Litik merasa alergi terhadap ucapan "insya Allah" yang diucapkan umat Islam terhadap sesuatu yang belum terjadi.

Setelah risih dengan ucapan "insya Allah", Litik menyimpulkan, surganya umat Islam belum pasti, karena masih pakai Insya Allah. Puncaknya, dengan takabur Litik membanggakan kekristenannya dengan mengatakan, Orng kristen pasti masuk surga, tak perlu pakai insya Allah lagi. Karena Yesus sudah menjamin keselamatan surgawi.

Kenapa Litik alergi terhadap kata "insya Allah" dan takabur, pasti masuk surga?. Bukankah Bibel menceritakan, pada hari kiamat banyak orang Kristen yang akan berkata pada Yesus "Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namamu, dan mengusir setan demi namamu dan mengadakan banyak mukjizat demi namamu juga?" Saat itu dengan marah, Yesus mengusir mereka, "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripadaku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:21-23). Mungkinkah Litik lupa, belum membaca, atau belum memahami Injil Matius ini?

Umat Islam, berkata "insya Allah" terhadap jaminan masuk surga, bukan karena ragu. Tapi, karena Allah mengajarkan, untuk hal-hal yang belum terjadi, tak boleh mengatakan pasti, tapi katakanlah insya Allah. "Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: Sesungguhnya aku akan mengajarkan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut):Insya Allah," (QS al-Kahfi 23-24).

Ucapan "insya Allah" ini, sebagai ungkapan Iman bahwa Allah adalah penentu segala sesuatu. Meski Allah menjamin masuk surga (QS an-Nisa 124, an-Nahl 31, al-Mukmin 40, dan lainnya), tapi umat Islam harus bersikap rendah diri di hadapan Allah dengan mengatakan "insya Allah".

Seharusnya Litik tak perlu alergi terhadap kata "insya Allah", jika ia memahami kitab suci agamanya. Bukankah dalam Bibel masih ada ayat yang memerintahkan berucap "insya Allah" terhadap hal-hal yang belum terjadi? "Hai kamu yang berkta,'Bahwa hari ini atau besoknya biarlah kita pergi ke negeri anu serta manahun disitu, dan berniaga dan mencari laba,' padahalnya kamu tiada mengetahui apa yang akan jadi besoknya. Bagaimanakah hidupmu itu? Karena kamu hanya suatu uap, yang kelihatan seketika sahaja lamanya, lalu lenyap. Melainkan patutlah kamu berkata Insya Allah kita kita akan hidup membuat ini atau itu" (Yakobus 4:13-15, Alkitab terbitan tahun 1960).

Dalam Alkitab cetakan sekarang, kata "Insya Allah" dalam ayat tersebut diganti menjadi "jika Tuhan meghendakinya" .Meski demikian, artinya tetap sama.

Evangelis Jansen Litik dan pengikutnya harus bertaubat, karena menurut Alkitab sendiri (Yakobus 4:16-17), ini adalah suatu kecongkakan yang masuk dalam kategori perbuatan dosa. Jadi meyakini dirinya pasti masuk surga adalah perbuatan dosa. (fakta/sabili)

Al-Qur'an dituduh menyadur Bible

Kehebatan al-Qur'an yang penuh dengan mukjizat, disambut dengan kedengkian oleh pihak Nasrani. Mereka berusaha menyerang otentisitas al-Qur'an dengan berbagai metode. etelahgagal, mereka frustasi dan terus-menerus melakukan kritikan untuk menanamkan keraguan terhadap umat Islam. Salah satu kritikannya adalah menuding al-Quran sebagai kitab saduran.

Adalah Mohamad Guntur Romli, aktivis JIL yang getol menjajakan liberalisasi agama berkedok Islam. Dalam artikelnya belum lama ini, Guntur mencak-mencak menuding al-Qur'an sebagai kitab saduran yang menyunting (mengedit) keyakinan dan kitab-kitab sebelumnya.

"Kisah Isa (Yesus) dalam al-Qur'an yang menegaskan, Isa hanyalah seorang Rasul, bukan anak Tuhan, dan tidak ada penyaliban terhadapnya adalah "saduran" dari keyakinan sebuah sekte Kristen," tulisnya.

Guntur menegaskan pula, "Al-Qur'an tetap memiliki banyak sumber dan 'proses kreatif' yang bertahan serta berlapis-lapis. Al-Qur'an adalah 'suntingan' dari 'kitab-kitab' sebelumnya, yang disesuaikan dengan kepentingan penyuntingnya," (koran Tempo, 4 Mei 2007).

Tuduhan ini sebenarnya sudah basi, dan sama sekali tidak ada yang baru. Para orientalis dan misionaris Kristen sudahterlalu sering melontarkan tuduhan ini. Misalnya, FJL Menezes (1911) dalam karyanya The Life anda Religion of Mohammad:The Prophet of Arabia menuduh : "Tidak ada suatu apapun dari al-Qur'an itu, selain ciptaan dan rekaan Muhammad dan para sahabatnya."

Dalam jajaran pengritik al-Qur'an, tercatat nama-nama orientalis terkemuka, antara lain : G. Sale dalam buku Preliminary Discourse (1899) yang menyebutkan bahwa Muhammad adalah penulis asli al-Qur'an. Di belakang hari, kritikan serupa dikemukakan oleh Sir William Muir dan Wollaston (1905), Lammens (1926), Champion dan Short (1959), Glubb (1970), Robinson (1977), dan seterusnya.

Di Indonesia, tuduhan yang sama dilontarkan oleh evangelis Jansen Litik, Suradi ben Abraham, Pendeta Muhamad Nurdin, dan lain-lain. Jauh sebelumnya, Louis Hoyack dalam buku De Onbekende Koran menuduh al-Qur'an telah menjiplak Bibel : "De Koran staat vol van verhalen, ontleend aan het Oude en Nieuwe Testament, en ook aan andere bronnen, maar waar de profeet het noodig oordelde, een weinig geretoucheed" (hlm.74). (Al-qur'an berisi dongengan-dongengan yang dicuplik dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, juga dari sumber-sumber lain, tetapi di mana dianggap perlu oleh sang nabi maka diadakan penyuntingan disana-sini).

Bila ditelaah secara kritis, kritik Guntur terhadap al-Qur'an itu sungguh tidak bermutu, karena tidak disertai data-data yang akurat dan faktual. Dalam ulasannya mengenai proses turunnya al-Qur'an, Guntur menganalisa bahwa krtika berbicara tentang pewahyuan al-Qur'an, Allah memakai dhamir nahnu (kata ganti plural "kami"). Menurutnya, kata "awhayna(kami wahyukan) dipakai dalam al-Qur'an lebih dari 30 kali, sedangkan kata "awhaytu" (aku wahyukan) hanya dipakai 8 kali. Bertolak dari data "awhayna" ini, Guntur menyatakan, proses turunnya al-Qur'an melibatkan kerja kolektif antara Tuhan dan manusia.

Dari penjelasan ini, terlihat jelas betapa Guntur adalah orang yang miskin data. Menurut penelitian Tim FAKTA dengan fasilitas program al-Qur'an digital, kata "awhaytu" dalam al-Qur'an hanya ada satu kata, yaitu dalam surah al-maidah:111, Itu pun bukan tentang pewahyuan al-Qur'an, melainkan ilham kepada para pengikut setia Nabi Isa (Hawariyun).

Selain itu, pemakaian kata ganti Nahnu (Kami) bukan berarti bilangan Allah itu jamak (plural), dan tidak berarti bahwa proses turunnya al-Qur'an itu melibatkan kerja sama antara Tuhan dan manusia. Dalam bahasa Arab, pemakaian kata ganti jamak untuk kata orang pertama tunggal (mutakallim mufrad) berarti penghormatan dan pengagungan (lit-ta'zhim).

Tidak benar tudingan Guntur bahwa pewahyuan al-Qur'an itu hasil kerja sama antara Tuhan dan manusia dengan menyadur dan menyunting kitab-kitab sebelumnya. Tudingan ini terbantah oleh ayat al-Qur'an serah al-Baqarah:41. Dalam ayat ini Allah memakai kata ganti tunggal "anzaltu" (Aku turunkan) ketika berbicara tentang turunnya al-Qur'an. Pada ayat tersebut Allah berfirman : "Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (al-Qur'an)...".

Ketika melontarkan tudingan al-Qur'an menyadur kitab sebelumnya (baca:Bibel), lagi-lagi Guntur memamerkan kemiskinannya dalam hal data. Sebagai seorang peneliti, seharusnya Guntur membktikan tuduhannya atas berbagai pertanyaan berikut : Pertama, jika al-Qur'an adalah kitab suci yang menyadur Bibel, maka ayat Bibel mana saja yang disadur, dan ayat al-Qur'an mana yang dianggapnya menyadur itu. Kedua, Berdasarkan sejarah yang diyakini Guntur, kapan Nabi Muhammad membaca dan meneliti Bibel ketika menyadurnya dalam al-Qur'an? Ketiga, menurut al-Qur'an, Muhammad adalah nabi yang ummiy (buta aksara). Tudingan bahwa beliau menyadur kitab-kitab sebelumnya, berarti menuding bahwa beliau bisa membaca. Siapa nama guru Nabi Muhammad yang mengajarkan baca-tulis?

Dalam artikelnyam Guntur hanya bisa menuding tanpa membuktikan fakta dan data yang akurat. Karenanya, tudingan ini boleh disebut sebagai asbun.

Secara singkat, semua tuduhan itu kandas dengan sendirinya oleh firman Allah dalam surah al-'Ankabut:48-49 yang menyatakan Muhammad adalah nabi yang ummiy. Kenyataan bahwa al-Qur'an sepanjang sejarah dunia tidak pernah berubah setitikpun, membuktikan bahwa al-Qur'an adalah Kalamullah (firman Allah) yang redaksinya sama sekali tidak melibatkan campur tangan manusia. Sebab jika al-Qur'an adalah hasil karya manusia, pastilah dikemudian hari akan mengalami editing (perubahan), karena hasil karya manusia memiliki banyak keterbatasan.

Jelaslah bahwa al-Qur'an bukan kitab saduran. Lantas siap ayang sebenarnya menyadur? Bisa jadi kelompok liberal yang menyadur fitnah-fitnah dari kaum orientalis dan misionaris. (sabili/fakta)

Jalan Rumit Kristen Tauhid

Ada gebrakan baru yang mendobrak iman Kristiani. Gerakan kalangan kristen dengan spirit back to the Bible ini menamakan diri komunitas Kristen Tauhid (Kristen Unitarian)

Pemikiran yang memprotes dasar Iman Kristiani tentang Allah dan Yesus ini dituangkan oleh Frans Donald dalam buku Allah dalam Alkitab dan Al-Qur'an. Buku setebal 97 halaman ini disambut dengan suka cita oleh Pendeta Dr Tjahjadi Nugroho, MA. Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia ini menyebut buku tersebut sebagai buku yang "menohok keras salah satu isu teologis mendasar" (hlm 9).

Doktrin Yesus sebagai Allah yang sejati dalam Trinitas, ditelanjangi habis-habisan oleh Frans. Dari sisi sejarah, dipaparkan secara kritis bahwa doktrin ini adalah warisan secara turun temurun dalam tradisi kekristenan sejak abad ke-4, saat kekristenan yang bertradisi Yahudi bercampur dengan peradaban Yunani dan Romawi yang politeistik (menyembah banyak dewa). Lantas, secara perlahan-lahan tradisi tauhid dibelokkan oleh filsafat Yunani menjadi ajaran Trinitas. Doktrin ini ditradisikan selama belasan abad dan telah mendarah daging sehingga para pendeta dan pastur banyak yang tidak tahu asalmula doktrin tersebut. Para pendeta dan pastur itu meyakini doktrin trinitas, bahwa Yesus sebagai oknum kedua dari ketuhanan, sebagai ajaran Alkitabiah (sesuai dengan ajaran Alkitab/Bibel). Padahal ajaran ini terbukti tidak sesuai dengan Alkitab, sehingga dinilai tidak Alkitabiah alias salah doktrin (hlm 37).

Pada halaman berikutnya, Frans membeberkan dalil-dalil Bibel untuk membuktikan bahwa Yesus bukan Allah, antara lain : Yohanes 12:49-50 menyebutkan, Allah mengutus/memerintah Yesus, berarti Allah dan Yesus adalah dua entitas yang berbeda. Yohanes 14:28 menyebutkan Allah lebih besar daripada Yesus, berarti Yesus tidak setara dengan Allah. Dalil lainnya adalah Yohanes 17:3,20:17, Matius 24:36, Markus 13:32, dan lainnya (hlm. 39-40).

Setelah menohok doktrin tentang Trinitas, ketuhanan Yesus, ketuhanan Roh Kudus dan peribadatan hari Minggu yang dinyatakan tidak Alkitabiah, Frans meletakkan bab berjudul "Taurat, Injil dan Al-Qur'an Satu Kesatuan" (hlm 74-78). Dengan mengutip Al-Qur'an surah al-Maidah:68, Frans menyimpulkan bahwa ketiga kitab suci (Taurat, Injil dan al-Qur'an) adalah satu kesatuan kunci ilai yang tidak bisa dipisahkan.

Untuk itu, Frans menyindir umat Islam, "Demikian pula para pengikut Nabi Muhammad saw yang belum menyelidiki dan mempelajari Taurat dan Injil nampaknya belum thau tentang nama Allah dalam Taurat, Yahweh yang disembah oleh leluhur mereka..." (hlm 76).

Demikian sedikit ulasan tentang agama Kristen Tauhid yang dicanangkan oleh Frans Donald. Ia mendefinisikan Kristen Tauhid sebagai Kristen yang bertauhid kepada Allah yang Esa, bukan Trinitas (hlm 86).

Sekilas, ide agama Kristen Tauhid itu terlihat baik untuk meredam gesekan antara Islam dan Kristen. Tapi, mempertemukan ajaran Taurat, Injil dan al-Qur'an dalam satu agama pastilah akan melahirkan berbagai kerumitan yang berujung di jalan buntu.

Pasalnya, terdapat perbedaan dalam kitab-kitab tersebut. Jangankan mempersatukan Injil dengan al-Qur'an, mempertemukan sesama ayat Injil saja bukan hal yang mudah. Misalnya, di satu sisi, Injil Bibel menyatakan bahwa Allah itu tidak sama dengan Yesus sebagaimana diungkapkan oleh Frans di atas. Tapi, dalam ayat-ayat lainnya, Bibel tidak membantah gelar bahwa Yesus adalah Allah. Misalnya, Yesus tidak menolak ataupun marah kepada Thomas ketika menyapanya dengan seruan, "Ya Tuhanku dan Allahku" (Yohanes 20:28).

Ayat lain yang menyebut Yesus sebagai Allah adalah : "AKan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal yang Benar, dan kita ada di dalam yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal" (I Yohanes 5:20).

"Tetapi tentang Anak (Yesus, pen) Ia berkata : Tahta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran "(Ibrani 1:8).

Mempersatukan al-Qur'an dengan Tuaurat dan Injil yang ada dalam Bibel, jelas mustahil. Karena dalam banyak ayat antara lain surah al-Baqarah:75,79, al-Maidah:13, an-Nisa:46, dan lainnya. Al-Qur'an mengritisi Bibel sebagai kitab yang sudah mengalami tahrif (perubahan, distorsi). Beberapa contoh tahrif ini bisa kita baca pada artikel-artikel yang ada di situs ini dalam kategori KRISTOLOGI. Selain itu, salah satu fungsi al-Qur'an adalah sebagai pengujian (muhaiminan alaih) dan pembetulan/koreksi (mushaddiq) terhadap kitab-kitab terdahulu (QS al-Maidah:48).

Keyakinan umat Islam terhadap kitab-kitab terdahulu hanya sebatas mengimani keberadaannya, bahwa Allah pernah mewahyukan Taurat kepada Nabi Musa dan Injil kepada Nabi Isa sebagai petunjuk Bani Israil ke jalan Tuhan. Tidak ada kewajiban bagi umat Islam untuk mengamalkan Taurat yang ada dalam kitab Bibel milik umat Kristiani saat ini, karena tidak ada bukti yang shahih bahwa Taurat Bibel itu adalah peninggalan Nabi Musa alahisissalam. Bahkan bebeapa penyelidikan membuktikan bahwa Taurat Bibel itu ditulis setelah Nabi Musa wafat. Demikian pula keyakinan umat Islam terhadap keempat Injil dalam Bibel. Keempat Injil ini bukan peninggalan Nabi Isa alahihissalam, melainkan ditulis oleh orang-orang yang bukan murid Yesus berpuluh-puluh tahun setelah Nabi Isa tidak ada di dunia.

Kesahalan dasar asumsi ketika mendefinisikan Allah, menjadi batu sandungan sendiri bagi para Kristen Tauhid. Frans mengurai kata "Allah" berasal dari dua kata yaitu "al" (kata sandang) dan "ilah" (sesembahan, god). Secara etimologis Allah memiliki padanan makna dalam bahasa Indonesia menjadi dewa, dalam nahasa Inggris menjadi God, dalam bahasa Ibrani menjadi Elohim, dan dalam bahasa Yunani menjadi Theos (hlm 23).

Kata "Allah" adalah isim ghairu musytaq (kata yang tidak ada asal katanya dan bukan pecahan dari kata lain). Karena kata ini tidak bisa diubah menjadi bentuk tatsniyah (ganda), bentuk jamak (plural), dan tidak dapat dijadikan sebagai mudhaf. (sabili)

Jadwal sholat